Sabtu, 08 Desember 2007

tentang kesendirian alias home alone

apakah anda pernah merasa sendiri itu indah, yah kalo seriues band sih emang itu lagu dia. tapi kalo kita sendiri gimana? apalagi kayak malam minggu gini.


kalo menurut gw sendiri sih emang bener, sendiri itu indah. dan kadang gw sangat menyukai sekali kesendirian itu. yah salah satunya ketika gw ingin sendiri, gw bakal kabur ke planet ini.

di planet ini gw bener-bener nikmatin kesendirian itu, dan nyaman.
kamu?

Jumat, 07 Desember 2007

Mengejar Bayangan

Sesosok lelaki berpakaian aneh menghampiri lelaki tua yang sedang membersihkan sudut-sudut kota, ia tidak sedikitpun tahu maksud orang yang mendekati sambil menyalaminya. Yang ia tahu lelaki aneh itu berpakain serba hitam bertopi lebar dengan tangan kiri memegang tongkat hitam menjuntai didampingi petugas keamanan dan polisi, kemudian arisaku bajunya ia keluarkan sejumlah uang yang tak pernah ia liat sebelumnya.

Seperti mendapat durian runtuh, begitulah pepatah yang pas untuk melukiskan keadaan Tukiman, lelaki berusia 40 tahun ini mendapat rezeki mendadak dari acara sebuah televisi swasta sebesar 10 juta rupiah. Uang sebanyak itu tak pernah ia bayangkan walau dalam mimpi sekalipun, dan kini uang itu ada di tangannya yang gemetaran. Kaget, bingung dan bahagia bercampur-baur dalam hatinya, ia cium tangan lelaki aneh yang mendatanginya lalu ia menangis bahagia di pangkuan dewa fortunanya.


Uang yang ia dapatkan melebihi sepuluh kali uang gajinya itu harus ia habiskan hari itu juga dengan waktu yang telah di tentukan. Hari itu juga ia belanjakan semua uangnya untuk keperluan yang penting maupun yang tidak penting, dari mulai beli sembako, alat rumah tangga, barang elektronik untuk hiburan sampai Handphone yang sama sekali tidak ia butuhkan. Uang habis hati gembira bisa membeli semua yang pernah ia idam-idamkan, bangga didepan tetangga-tetangganya karena kaya mendadak, puas mampu membahagiakan keluarganya yang selama bertahun-tahun hanya mampu ia kasih makan dan baju seadanya.

***


gambaran kebahagian yang dialami Tukiman yang ia saksikan di televisi selalu saja membayang di benak Narto bahkan membekas dihatinya, menjadi orang kaya bagaikan sebuah kata yang terpatri diotaknya untuk dijadikan tujuan hidup. Menjadi orang kaya mendadak adalah impiannya sejak dua tahun di-PHK dari kerjaannya sebagai buruh pabrik tekstil di kawasan industri bekasi, bayangan itu selalu muncul tatkala ia ingat anak istri yang sudah lama dititipkan di rumah mertua karena tak mampu lagi ia biayai. Bukan tak malu itu ia lakukan, namun tak ada pilihan lain bagi dirinya yang kini menganggur dan mengadu nasib di ibukota.


Menjadi penganggur menjadi beban tersendiri bagi dirinya yang sudah berkeluarga, apalagi tak ada sedikit pun keahlian yang ia miliki, pendidikan pun hanya ia selesaikan sampai kelas 2 smp, itupun dengan biaya banting tulang ayahnya yang tukang parkir. Lalu ia keluar sekolah dan mencari kerja serabutan di ibukota, yang akhirnya mengantarkannya menjadi buruh pabrik bermodal kenalan keluarga yang sudah terlebih dahulu menjadi buruh pabrik di bekasi. Setahun bekerja lalu menikah dengan sesama buruh pabrik, dan kemudian di-PHK masal bersama-sama, sebuah kisah klise bagi orang-orang miskin seperti dirinya.


Bayangan uang jutaan rupiah dari seseorang yang tiba-tiba datang menemuinya kembali hadir, bahkan kini hadir didalam mimpi ketika tertidur pulas di emperan toko. Ia dalam mimpinya mendapat rejeki nomplok dari seorang artis nan cantik jelita, lalu mengajaknya berkeliling kota sambil membelanjakan seluruh uangnya sampai ia berteriak kegirangan sendiri. Diujung mimpi ia melihat kawannya dikejar petugas karena tiduran di emperan toko, ternyata ia terbangun oleh seruan kawan-kawannya yang lari di usir petugas kebersihan kota.


Bayangan menjadi jutaan kadang menjadi sebuah lamunan yang mengasyikan diantara himpitan hidup yang semakin sulit. Ia bayangankan seseorang berbaju serba hitam mendekat pada dirinya, lalu memberikan sejumlah uang dan menyurhnya membelanjakan habis uang yang ia terima sampai waktu yang ditentukan habis. Lalu ia berlari bak dikejar anjing Rabies menyusuri lorong-lorong pasar, yang ia tuju adalah sebuah mall yang megah untuk membeli semua impian tentang barang mewah yang belum pernah ia rasakan. Ia akan membeli televisi berwarna, kulkas dua pintu, spring bed, baju-baju bagus, tak lupa beberapa gram mas murni untuk istri tercinta ia beli dan tentunya sebuah handphone berharga jutaan untuk menelpon keluarga di kampung. Tentunya itu ia bayangkan dalam angan-angannya setelah ia tonton di sebuah acara televisi swasta kenamaan.


Apabila ada orang yang mirip-mirip artis mendekatinya, ia dengan semangat bertanya-tanya apakah ia dari acara televisi?namun ternyata hanya seseorang yang menanyakan jalan karena baru datang dari luar kota.


Bila ada orang yang minta tolong padanya, dengan semangat akan ia lakukan, bukan karena kasihan tapi karena terinspirasi sebuah acara televisi sehingga ia berharap itu adalah jebakan padanya yang pura-pura minta tolong padahal hanya menguji lalu akan memberinya beberapa lembar uang atas ketulusannya.


Pernah pada suatu hari seseorang bertopi hitam mirip pemain sulap mendekati kerumunan orang di pasar, lalu ia hampiri orang itu dan bertanya-tanya apakah dia mencari dirinya?namun sial, ia hanya seorang pemain teater yang menanyakan tempat pertunjukan di kota itu, malam nanti ia akan bermain teater disana.


***

kini hari-hari ia habiskan untuk melihat reality show tentang orang-orang yang ketiban rejeki mendadak, acara-acara kuis yang berhadiah jutan bahkan milyaran rupiah kini menjadi acara favouritnya, bahkan ia lupa dengan niatnya ke ibu kota untuk mencari kerja.


Ia sekarang lebih senang menghitung-hitung angka yang ia kumpulkan dari kertas-kertas yang dibuang, ia berpikir siapa tahu ia bisa mendapatkan uang dari tebak nomor yang berhadiah jutaan, sebuah cara menjadi kaya pantastic tentunya, segala belanjaannya kini ia perhitungkan, apakah ada hadiahnya atau tidak, dari mulai beli sabun mandi, odol, sikat gigi, sabun cuci, shampo, dan segala tetek bengek belanjaan sehari-hari. Kalo mau ngopi ataupun bikin mie, tak lupa ia pilih yang ada hadiah langsungnya. Segala jenis bungkus jajannan dan belanjaannya ia simpan, jangan-jangan nanti dijadikan syarat undian dan nanti ia bisa jadi jutawan.


besoknya ia kembali menonton televisi di warung langganannya tempat ia membunuh sepi disepanjang sore yang biasa. Tak ketinggalan ia tonton episode selanjutnya dari acara reality show orang-orang miskin yang mendapat hadiah berjuta-juta rupiah, dan kemudian ia berharap takdir menemuinya diujung gelisahnya akan kemiskinan yang tak kunjung padam.


Setelah selesai acara, ia kembali berkeliling pasar untuk melihat-lihat andai ada orang yang seperti diacara televisi, ia perhatikan raut-raut muka para pengunjung pasar. Ia amati orang-orang asing yang masuk kota, kemudian ia dekati orang-orang yang mencurigakan baik dari segi penampilan maupun bawaannya.


***


habis sudah acara reality show yang ia nikmati setiap sore di warung langganannya, lalu ia keluar dari warung untuk pulang. Namuan tiba-tiba ia dikejutkan sebuh mobil sedan panjang berwarna hitam yang berhenti pas dibelakangnya. Dari balik pintu keluar sosok tegap berkaca mata hitam didampingi seorang yang tua namun masih kelihatan tegap menghampirinya, lalu tanpa basa-basi ia diajak masuk mobil mewah, dan kemudian mobil melaju kencang sedangkan Narto tak tahu kemana ia akan dibawa, namun yang pasti ia tersenyum sambil benaknya melambungkan hayalan akan uang yang berjuta-juta akan menyelamatkan dirinya dari kemelaratan dan himpitan hidup yang tak pernah usai. Benarkah?

Pondok Sunyi, 17 Agustus 2006
gambar ilustrasi di comot tanpa ijin dari sini

it’s a never ever

Aku adalah penulis yang insidental. Aku menulis ketika sesuatu mengganggu pikiranku, baik itu berupa kata-kata yang terdengar mengusik, sesosok bayangan yang melintas, dan mimpi-mimpi yang menggoda hasratku yang tiba-tiba tumbuh ketika bunyi dengusan dibalik bilik kamarnya.

Inilah tulisanku yang pertama, namun kuharap ini bukan yang terakhir. Karena cita-cita ini bukan milikku, ada beribu kepala menungguku menjadi penulis terkenal. Namun akupun ingin hidup lebih berarti, seperti saat kalian membaca tulisan ini. Agar kalian bisa merasakan hidup ini punya arti, dan tahukah kalian apa yang lebih berarti? Yang lebih berarti adalah mengetahui bahwa hidup ini adalah sekarang. Yah, sekarang saat kalian membaca tulisan ini, sekarang saat aku membaca kembali tulisanku sendiri.

Aku memberinya judul “it’s a never ever”. Karena ada dalam keyakinanku saat ini, bahwa ini tak akan pernah terjadi. Menjadi penulis terkenal, membahagiakan semua orang dengan tulisan, atau mengukir sejarah dunia sastera. Yah, ini sesuatu yang ‘sangat’ tidak mungkin. Tidak mungkin untuk aku bersuka ria mencaci dalam kata, menghujat dalam kalimat, bahkan aku tidak mungkin berpesta pora dengan para binatang yang bermain dalam film-film.

Baiklah, aku akan mulai cerita, karena aku yakin kalian membaca tulisan ini karena ingin membaca suatu cerita. Ini cerita tentang kita, tentang sesuatu yang sederhana, tentang yang terjadi dalam keseharian kita.

Syahdan, disebuah negeri yang makmur loh jinawi, tenteram, aman dan sejahtera. Sebenarnya aku ingin menambahkan kata adil dalam cerita ini, namun aku yakin kalian akan berpikir lain tentangku. Negeri ini diperintah oleh sosok pemimpin yang dicintai rakyatnya, tauladan yang kharismatik dan dapat dipercaya. Aku yakin kalian tak akan mempercayainya, karena kalian tak pernah merasakan suasana seperti ini.

Negeri itu memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan. Buah-buahan yang beraneka macam rasa dan aroma, sayuran yang hijau dan menyegarkan, aneka macam hasil pertanian yang tersebar di ladang-ladang dan pesawahan yang subur makmur. Kolam-kolam ikan yang berisikan warna-warni jenis ikan. Atau apakah perlu aku tambahkan sebuah pemandangan lembah yang indah diantara perbukitan dibelah mulusnya jalanan menuju villa-villa peristirahatan.

Tapi disana tak ada mall, diksotik atau bayanganmu tentang cafe-cafe yang eksotik. Disana hanya ada warung-warung sederhana ditepi jalan. Yah, memang mirip Angkringan yang ada di Jogja, namun ini tak seterkenal Angkringan dan tetengbengek budayanya. Warung pinggir jalan itu sangat sederhana, namun aku menjamin bila kalian hadir disana akan mengalami nuansa yang lain dibanding warung-warung lain dimuka bumi ini.

Wajar negeri itu bila dijadikan tempat tujuan wisata masa depan. Disana kalian akan mendapatkan apa yang tak dapat kalian temukan di negeri kalian yang sumpek, negeri kalian yang kotor dan penuh penyakit. Aku menjamin dengan jiwaku sendiri, kalian aman disana. Tak ada wabah yang membuat kalian harus membatasi pergaulan, tak ada isolasi yang diakibatkan bibit penyakit sedang tumbuh subur, dan yang pasti kalian akan sehat, kuat dan bugar.
Di negeri itupun tak akan kalian temukan orang-orang yang minta-minta. Karena masyarakat sudah memiliki apa yang mereka butuhkan. Namun, kalian jangan membayangkan perut-perut penduduk negeri itu buncit-buncit seperti anggota dewan di negeri kalian yang mabok anggaran negera. Atau membayangkan orang-orang kaya menumpuk hartanya digudang-gudang, di bank-bank riba dan berpesta pora menghabiskan kekayaan hasil merampok uang rakyat.

Mereka sangat bersahaja, atas kebutuhan yang sudah terpenuhi, atas hajat yang tersalurkan, mereka menerima apa yang telah menjadi hak mereka. Saling tolong menolong antara anggota masyarakat yang mebutuhkan adalah kesenangan yang telah mendarah daging pada diri mereka. Tepo seliro dan saling berusaha untuk membahagiakan satu dengan lainnya dapat kalian saksikan bila suatu saat nanti berkunjung ke negeri itu. Kebebasan yang bertanggung jawab, toleransi atas keberagaman serta tenggang rasa telah menjadi bagian cara hidup mereka.

Kalian pasti bingung, dimanakah negeri itu berada?. Karena kalian belum pernah menemui sebuah negeri seperti itu, kan?.

Aku tak akan begitu saja memberitahukan tempat itu berada. Kalian bukanlah tipe orang yang bisa dipercaya, yah seperti karakter bangsamu yang mulai keropos dari sifat-sifat moral yang standar sekalipun. Bila kuceritakan, kalian tak akan membiarkan negeri itu aman, nyaman, tenteram dan bersahaja seperti saat ini. Kalian akan mencoba mengusik dengan berbagai cara, meracuni kondisi masyarakat dengan pola pikir yang tak bertanggung jawab.

Seperti saat kalian hancurkan negeri kalian sendiri, dengan berbagai tipu daya logis. Pola pikir bebas yang kebablasan dan tak bertanggung jawab. Lalu kalian berpesta pora diatas himpitan eknomi yang mendera rakyat. Dan menina bobokannya dengan tayangan-tayang hiburan syahwati, program bantuan yang tak mendidik, dan program-program pembangunan yang salah sasaran.

Maaf, aku terlalu berlebihan. Sepertinya pembahasankan kita mulai menyimpang, dan salah arah.

Kalian masih ingin membaca cerita kelanjutannya?. Aku sarankan kalian untuk menghentikan membaca tulisan ini, karena aku yakin kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari tulisan ini. Tak ada makna filosofis yang akan kalian ambil dari cerita ini. Akupun sebenarnya ingin menghentikan tulisan ini, karena aku beranggapan bahwa apa yang aku tulis tidak akan pernah terjadi. Lebih-lebih tulisan ini mungkin akan membuat kalian muak.

Oke, aku akan akhiri cerita ini dengan puisi. Kalian tahukan puisi? Yah seperti syair-syair yang dilantunkan para penyair terkenal itu. Karena kata beberapa cerpenis, menggabungkan cerita dengan beberapa bait puisi akan memberikan nuansa yang lain. Seperti ada percikan-percikan yang menghanyutkan perasaan kita, sehingga mendayu-dayu, terbang kealam khayal, meninggalkan mayapada yang mulai membosankan serta menikmati sensasi alam lain yang tak nyata.

Aku beri judul puisi ini “ladang sunyi”. Maaf bila aku hadirkan puisi ini dengan 2 bagian. Aku sebenarnya tak ingin benar-benar menjadikannya dua bagian, hanya sepertinya itu bagus. Yah, aku memang penulis karbitan. Yang penting terlihat bagus dan membuat hatiku nyaman. Oke, aku tak mau berbelit-belit inilah puisiku yang akan sekaligus menutup cerita ini. Maafkan bila kalian tak menghendaki...

Ladang sunyi I

Hampir-hampir jiwaku kering seperti ranting
Karena tak sepatah kata pun berbaris di putih kertasku
Aku terpana,
umbu tolong aku!

Kulihat kunang-kunang dilangit
Haruskah ku tulis?

Aku pemilik dari seribu mata pena
Aku bahkan memiliki beratus keyboard untuk menetaskan lebih dari jutaan karakter kata yang kini sedang ku erami di kepalaku.

Aku telah beribu hari disini
Ditempat yang dulu sunyi
Ranting patah, daundaun berguguran, angin sepoi-sepoi
Haruskah ku tulis?

Aku telah koma dalam hitungan milyar detik
Kertas-kertas kosong, mata pena meruncing tak berpindah ukuran

Aku telah berputar dari telukbetung sampai tanjungkarang
Telah kususuri segala way dari sekampung, seputih, tulang bawang mengalir
menyatu dalam rengkuhan laut jawa.
Haruskah ku tulis?

Aku memang bersunyi diladang

Aku telah menanam lada dan menjadi beton-beton yang ku tancap diladang-ladang yang sunyi
Berhektar kopi adalah investasiku untuk memoles pekon dengan ribuan tiang penangkap wajah-wajah dalam kotak
Haruskah ku tulis?

Aku menemukan banyak negara disini
Negarabatin, negerisaka, negararatu, adakah negarawan disini?
Ada peperangan!

Aku telah berhari-hari merobek malam
Dan aku lelah dipersimpangan, tak kutemukan kata!
Aku harus menulis!
Ada ribuan kertas dan mata pena yang hampir sekarat, kelaparan.

Tiba-tiba
Ruhku melesat menembus gelap
Ladang sunyi II

Yah, aku bisa melihat ke segala arah
Ini akan kutulis!
(namun takkan kuceritakan
padamu yang sunyi tak bermentari
terlalu sepi dan tak bisa dimengerti
mengapa tak ada yang punya rasa harga diri
untuk tak mengobral janji
tentang kemakmuran,
dan tanah yang hilang sejak jaman penjajahan,
bahkan aku tak bisa memahami
atas segala intrik yang begitu berani
tentang perebutan kekuasaan
para pemilik modal yang menjual keringat rakyat jelata, kemudian berpura-pura memperjuangkan sebuah kemerdekaan
dari cengkeraman pusat yang semena-mena,
padahal hanya memanfaatkan momentum suci sebuah kursi.)

ah, tak sengaja!
Lidah tak bertuan telah memperkosaku untuk menghabiskan mata pena.

Ini kata tak berjiwa, sebuah rangkaian huruf yang memadu kasih
Mengucap tanpa makna
Sekedar pelipur lara sang pujangga mimpi (e-antologi puisi SENsasI, 2006)


Bumi kedaton, januari 2007








Technorati Profile

planet seruit

Bosan hidup di planet bumi, dan merasa tak ada planet yang nyaman dan bisa jadi ketika tak ada yang menggangu dan ingin sendiri dengan dunianya.

planet ini kunamakan planet seruit, planet yang akan ku warnai dengan cerita cinta, semangat dan semua keluh kesah. mungkin juga kan kuceritakan segala kisah dan kronologis ketika jasadku ada di planet ini.

planet ini tak ingin ada yang menemani, cukup diri ini yang menjadi penghuni dan berkuasa penuh atas ini negeri. cukuplah kalian kujadikan tamu agung, atau penasihat atas kenyamanan dan kebahagiaan ku di negeri ini.
foto : di ambil tanpa ijin dari kompas